*8 sifat pengelola jurnal yang ideal*
Posted: 24 Jan 2026, 08:27
*8 sifat pengelola jurnal yang ideal*
Tulisan ini merangkum pandangan pribadi saya, ditambah hasil obrolan santai dengan teman-teman di media sosial, tentang delapan sifat pengelola jurnal yang ideal demi keberlanjutan jurnal ilmiah.
1. Ikhlas sebagai relawan
Mengelola jurnal itu identik dengan pekerjaan yang padat, tanggung jawab besar, tapi honor yang relatif kecil—terutama untuk jurnal yang diterbitkan kampus atau universitas. Karena itu, keikhlasan dan semangat berbagi menjadi kunci utama. Jika orientasinya semata-mata uang, besar kemungkinan seseorang tidak akan bertahan lama di dunia jurnal. Tentu ceritanya berbeda dengan publisher besar seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, atau Emerald yang berbasis profit dan punya sumber daya besar. Bandingkan dengan jurnal kampus yang dikelola lebih sebagai pengabdian akademik.
2. Fokus dan tekun
Prestasi tidak akan datang tanpa fokus dan ketekunan. Banyak jurnal bagus akhirnya terbengkalai karena pengelolanya studi lanjut ke luar negeri, sibuk jabatan, atau tidak ada regenerasi. Akibatnya, jurnal yang sudah terakreditasi bisa turun peringkat. Seperti kata Prof. Zaki (IJIMS, Scopus indexed), pengelola jurnal tidak perlu banyak—cukup 4–5 orang yang benar-benar fokus dan konsisten, insyaAllah jurnal bisa maju dan berprestasi.
3. Mudah dihubungi dan responsif
Komunikasi adalah nyawa pengelolaan jurnal. Tidak jarang penulis melakukan double submission karena naskah mereka berbulan-bulan tidak direspons di OJS. Bisa jadi bukan niat buruk, tapi kepanikan karena deadline studi S2 atau S3. Jika editor sulit dihubungi dan lambat merespons, penulis akan mencari jurnal lain yang lebih sigap. Intinya, komunikasi yang sehat antara author, editor, dan reviewer itu mutlak.
4. Menjaga dari konflik kepentingan
Di jurnal terakreditasi, apalagi yang sudah Scopus atau WoS, isu conflict of interest sering muncul—entah karena relasi atasan, teman, atau keluarga. Itulah mengapa double blind peer review penting. Bahkan ada “aturan tak tertulis” di DOAJ bahwa editor dan reviewer tidak mendominasi publikasi di jurnalnya sendiri. Prinsipnya tegas: artikel bagus tetap diterbitkan meski dari “lawan”, dan artikel buruk harus ditolak meski dari teman dekat. Satu artikel jelek saja bisa berdampak pada reputasi jurnal.
5. Membangun suasana yang humanis
Jurnal kampus idealnya dikelola dengan pendekatan manusiawi. Respons cepat, komunikasi sopan, dan penghargaan kecil seperti e-sertifikat untuk editor dan reviewer sangat berarti. Jika jurnal sudah menerapkan APC, bukan hal berlebihan jika ada honor sederhana atau merchandise sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.
6. Sabar menghadapi berbagai karakter penulis
Menghadapi penulis dari berbagai negara butuh kesabaran ekstra. Ada yang mundur begitu tahu jurnal belum terakreditasi meski gratis APC. Sebaliknya, ketika jurnal sudah Sinta 2 atau terindeks Scopus, penulis “garis keras” bisa datang bertubi-tubi—bahkan menelepon siang malam, minta fast track tanpa peduli kualitas artikel. Di sinilah kesabaran pengelola diuji
.
7. Memiliki jejaring yang luas
Jurnal tidak bisa hidup sendiri. Jejaring sangat penting untuk menarik penulis, editor, dan reviewer, baik dari dalam maupun luar negeri. Konferensi, seminar, dan media sosial adalah sarana efektif untuk promosi call for papers maupun call for editors and reviewers. Semakin luas jaringan, semakin besar peluang jurnal berkembang.
8. Tidak terlalu berorientasi pada uang
Uang itu penting, tapi bukan segalanya. Esensi pengelolaan jurnal adalah membantu orang lain dalam publikasi ilmiah. Dan sering kali, justru kitalah yang paling diuntungkan—baik secara akademik maupun spiritual. Seperti kata para ulama, menolong orang lain sejatinya adalah cara Allah meninggikan derajat dan melipatgandakan pahala kita.
Demikian delapan sifat pengelola jurnal yang ideal. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufik dan hidayah untuk mengamalkannya dalam kehidupan akademik sehari-hari. Aamiin.
Tulisan ini merangkum pandangan pribadi saya, ditambah hasil obrolan santai dengan teman-teman di media sosial, tentang delapan sifat pengelola jurnal yang ideal demi keberlanjutan jurnal ilmiah.
1. Ikhlas sebagai relawan
Mengelola jurnal itu identik dengan pekerjaan yang padat, tanggung jawab besar, tapi honor yang relatif kecil—terutama untuk jurnal yang diterbitkan kampus atau universitas. Karena itu, keikhlasan dan semangat berbagi menjadi kunci utama. Jika orientasinya semata-mata uang, besar kemungkinan seseorang tidak akan bertahan lama di dunia jurnal. Tentu ceritanya berbeda dengan publisher besar seperti Elsevier, Taylor & Francis, SAGE, atau Emerald yang berbasis profit dan punya sumber daya besar. Bandingkan dengan jurnal kampus yang dikelola lebih sebagai pengabdian akademik.
2. Fokus dan tekun
Prestasi tidak akan datang tanpa fokus dan ketekunan. Banyak jurnal bagus akhirnya terbengkalai karena pengelolanya studi lanjut ke luar negeri, sibuk jabatan, atau tidak ada regenerasi. Akibatnya, jurnal yang sudah terakreditasi bisa turun peringkat. Seperti kata Prof. Zaki (IJIMS, Scopus indexed), pengelola jurnal tidak perlu banyak—cukup 4–5 orang yang benar-benar fokus dan konsisten, insyaAllah jurnal bisa maju dan berprestasi.
3. Mudah dihubungi dan responsif
Komunikasi adalah nyawa pengelolaan jurnal. Tidak jarang penulis melakukan double submission karena naskah mereka berbulan-bulan tidak direspons di OJS. Bisa jadi bukan niat buruk, tapi kepanikan karena deadline studi S2 atau S3. Jika editor sulit dihubungi dan lambat merespons, penulis akan mencari jurnal lain yang lebih sigap. Intinya, komunikasi yang sehat antara author, editor, dan reviewer itu mutlak.
4. Menjaga dari konflik kepentingan
Di jurnal terakreditasi, apalagi yang sudah Scopus atau WoS, isu conflict of interest sering muncul—entah karena relasi atasan, teman, atau keluarga. Itulah mengapa double blind peer review penting. Bahkan ada “aturan tak tertulis” di DOAJ bahwa editor dan reviewer tidak mendominasi publikasi di jurnalnya sendiri. Prinsipnya tegas: artikel bagus tetap diterbitkan meski dari “lawan”, dan artikel buruk harus ditolak meski dari teman dekat. Satu artikel jelek saja bisa berdampak pada reputasi jurnal.
5. Membangun suasana yang humanis
Jurnal kampus idealnya dikelola dengan pendekatan manusiawi. Respons cepat, komunikasi sopan, dan penghargaan kecil seperti e-sertifikat untuk editor dan reviewer sangat berarti. Jika jurnal sudah menerapkan APC, bukan hal berlebihan jika ada honor sederhana atau merchandise sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka.
6. Sabar menghadapi berbagai karakter penulis
Menghadapi penulis dari berbagai negara butuh kesabaran ekstra. Ada yang mundur begitu tahu jurnal belum terakreditasi meski gratis APC. Sebaliknya, ketika jurnal sudah Sinta 2 atau terindeks Scopus, penulis “garis keras” bisa datang bertubi-tubi—bahkan menelepon siang malam, minta fast track tanpa peduli kualitas artikel. Di sinilah kesabaran pengelola diuji
7. Memiliki jejaring yang luas
Jurnal tidak bisa hidup sendiri. Jejaring sangat penting untuk menarik penulis, editor, dan reviewer, baik dari dalam maupun luar negeri. Konferensi, seminar, dan media sosial adalah sarana efektif untuk promosi call for papers maupun call for editors and reviewers. Semakin luas jaringan, semakin besar peluang jurnal berkembang.
8. Tidak terlalu berorientasi pada uang
Uang itu penting, tapi bukan segalanya. Esensi pengelolaan jurnal adalah membantu orang lain dalam publikasi ilmiah. Dan sering kali, justru kitalah yang paling diuntungkan—baik secara akademik maupun spiritual. Seperti kata para ulama, menolong orang lain sejatinya adalah cara Allah meninggikan derajat dan melipatgandakan pahala kita.
Demikian delapan sifat pengelola jurnal yang ideal. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita taufik dan hidayah untuk mengamalkannya dalam kehidupan akademik sehari-hari. Aamiin.