Page 1 of 1

“Jurnal Kapal Perang vs. Jurnal Kapal Dagang”?

Posted: 02 Apr 2026, 14:42
by faizal
“Jurnal Kapal Perang vs. Jurnal Kapal Dagang”?

Image


Pernah ada sebuah diskusi menarik di kalangan pengelola jurnal dengan tema “Jurnal Kapal Perang vs. Jurnal Kapal Dagang”. Dua istilah ini sejatinya hanyalah metafora untuk menggambarkan dua corak pengelolaan jurnal yang berbeda dalam dunia publikasi ilmiah.
Pertama, tipe “Kapal Perang”. Istilah ini kami gunakan untuk menggambarkan pengelola jurnal yang sangat idealis—yang di lingkungan PTKIN bahkan mulai dikenal dengan sebutan “Jihadis Jurnal”. Mereka berjuang sepenuh tenaga, mencurahkan waktu, pikiran, bahkan materi, demi keberlangsungan jurnal, tanpa terlalu memikirkan imbalan finansial. Semangat mereka adalah ikhlas lillāhi ta‘ālā, berharap ridha Allah semata.

Namun, dalam realitanya, tidak sedikit dari “pejuang kapal perang” ini yang merasa kurang diapresiasi. Mereka sering kali terabaikan, bahkan terpinggirkan, tetapi di saat yang sama tetap dibutuhkan oleh institusi. Di sinilah letak ujian keikhlasan—apakah tetap istiqamah dalam kebaikan meski minim pengakuan.

Secara umum, tipe ini banyak kita jumpai di jurnal-jurnal kampus, baik negeri maupun swasta. Sebagian besar tidak memungut biaya publikasi (free APC), dan jika pun ada, biayanya relatif terjangkau, berkisar antara 30 hingga 300 USD tergantung pada peringkat SINTA. Semakin tinggi levelnya, biasanya semakin besar biayanya. Meski demikian, biaya tersebut masih tergolong “ringan” jika dibandingkan dengan tipe berikutnya.

Kedua, tipe “Kapal Dagang”. Ini merujuk pada jurnal-jurnal yang dikelola oleh penerbit besar berskala internasional seperti Elsevier, Emerald, Springer, dan lainnya. Karena berbasis perusahaan, prinsip yang dipegang bukan semata idealisme, tetapi juga keberlanjutan bisnis dan profesionalitas layanan.

Dalam skema ini, penulis tetap memiliki pilihan. Jika ingin publikasi gratis, bisa memilih jalur closed access, namun konsekuensinya adalah proses review yang panjang dan ketat—bisa memakan waktu 6 bulan hingga lebih dari satu tahun, dengan revisi yang berulang. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan mental yang kuat. Sementara itu, tuntutan publikasi—terutama bagi mahasiswa S3—sering kali berpacu dengan waktu.

Bagi yang menginginkan proses lebih cepat, tersedia opsi open access, namun dengan biaya yang tidak sedikit, mulai dari 500 USD hingga ribuan USD. Bahkan, ada kisah seorang doktor yang hendak meraih gelar profesor, diminta membayar sekitar 1.000 Euro hanya untuk proses editing naskah. Jika dikonversi, jumlah tersebut mencapai sekitar 16 juta rupiah—dan itu belum termasuk biaya proofreading. Ada pula penulis Indonesia yang harus membayar hingga 25 juta rupiah untuk publikasi di jurnal bereputasi internasional.

Lalu bagaimana dengan jurnal di Indonesia? Selain yang dikelola kampus, ada juga jurnal yang dikelola oleh lembaga non-kampus seperti CV atau LSM. Sebagian di antaranya lahir dari semangat kemandirian—bahkan bisa jadi dari pengalaman kurangnya perhatian institusi—serta melihat peluang dalam dunia publikasi ilmiah. Mereka membangun “kapal dagang” versi sendiri, namun umumnya masih dalam batas kewajaran biaya.

Perlu kita pahami, pengelolaan jurnal non-kampus tentu membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit: domain, hosting, pengelolaan sistem, langganan DOI, Turnitin/iThenticate, Grammarly, dan lain sebagainya. Semua itu adalah bagian dari ikhtiar menjaga kualitas dan profesionalitas publikasi.

Akhirnya, baik “kapal perang” maupun “kapal dagang”, keduanya memiliki peran dan tempat masing-masing. Pilihan kembali kepada penulis, sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan publikasinya. Yang terpenting adalah tetap berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam jurnal predator atau penerbit yang meragukan.

Semoga setiap ikhtiar kita dalam dunia publikasi ilmiah ini menjadi bagian dari amal jariyah, yang tidak hanya berdampak di dunia akademik, tetapi juga bernilai pahala di sisi Allah SWT.