Page 1 of 1

20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus

Posted: 05 Jul 2026, 21:38
by faizal
20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus
Bagian 1

Membangun Fondasi Jurnal Berkualitas Menuju Indeksasi Scopus
Indeksasi Scopus bukan sekadar persoalan mengirimkan formulir pendaftaran ke Elsevier. Di balik keberhasilan sebuah jurnal masuk ke dalam basis data Scopus terdapat proses panjang yang melibatkan peningkatan kualitas tata kelola jurnal (journal management), kualitas artikel ilmiah, reputasi dewan editor, konsistensi penerbitan, hingga dampak ilmiah (scientific impact) yang dihasilkan. Tidak sedikit jurnal yang harus melakukan pembenahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memperoleh status terindeks Scopus.

Berdasarkan berbagai pengalaman editor jurnal internasional, rekomendasi Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus, serta berbagai praktik baik yang dibagikan melalui PegiatJurnal.com dan forum.relawanjurnal.id, terdapat sejumlah strategi yang terbukti mampu meningkatkan peluang jurnal untuk diterima oleh Scopus. Artikel ini mengembangkan 20 strategi tersebut dengan tambahan penjelasan berdasarkan pedoman resmi dari Scopus, DOAJ, COPE, OASPA, Crossref, hingga PKP.

Perlu dipahami bahwa tidak ada satu pun "jalan pintas" agar jurnal dapat langsung diterima Scopus. Yang dinilai oleh CSAB bukan hanya kualitas artikel, tetapi juga integritas tata kelola jurnal, keberlanjutan penerbitan, transparansi kebijakan, serta kontribusi jurnal terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara global.

A. Strategi Kualitas Konten dan Tata Kelola Jurnal
1. Prioritaskan Publikasi Berkualitas Tinggi
Kualitas artikel merupakan faktor paling penting dalam proses evaluasi jurnal oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus. Sebagus apa pun tampilan website jurnal, sebanyak apa pun editor internasional yang dimiliki, ataupun seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk promosi, seluruhnya tidak akan berarti apabila artikel yang diterbitkan tidak memberikan kontribusi ilmiah yang nyata.

Artikel berkualitas tidak hanya berarti bebas plagiarisme. Sebuah artikel harus menawarkan novelty (kebaruan ilmiah), metodologi yang kuat, analisis yang mendalam, diskusi yang kritis, serta referensi yang mutakhir. Tim CSAB akan melihat apakah artikel-artikel dalam jurnal benar-benar menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah internasional atau hanya mengulang penelitian yang telah banyak dilakukan sebelumnya.

Editor sebaiknya menerapkan standar seleksi yang tinggi. Tidak semua naskah harus diterima hanya demi memenuhi target jumlah artikel. Justru salah satu ciri jurnal bereputasi adalah memiliki acceptance rate yang selektif sehingga hanya artikel terbaik yang diterbitkan. Dalam praktik internasional, rejection rate yang tinggi sering kali mencerminkan komitmen jurnal terhadap kualitas.

Selain itu, editor perlu memastikan bahwa setiap artikel telah melalui proses peer review yang objektif, independen, dan terdokumentasi dengan baik. Reviewer tidak hanya diminta memberikan rekomendasi diterima atau ditolak, tetapi juga memberikan masukan substantif yang benar-benar meningkatkan kualitas naskah.

Pedoman resmi mengenai proses seleksi jurnal Scopus dapat dipelajari melalui:

Scopus Content Selection & Advisory Board
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
Scopus Title Suggestion
https://suggestor.step.scopus.com/sugge ... /step1.cfm
2. Sertakan Abstrak Bahasa Inggris yang Komprehensif
Abstrak merupakan "etalase" sebuah artikel ilmiah. Dalam banyak kasus, pembaca internasional hanya membaca judul dan abstrak sebelum memutuskan apakah artikel tersebut layak dibaca secara penuh.

Oleh karena itu, abstrak berbahasa Inggris harus disusun secara lengkap dan informatif. Abstrak yang terlalu pendek sering kali gagal menjelaskan kontribusi penelitian. Sebaliknya, abstrak yang baik mampu menggambarkan latar belakang penelitian, tujuan, metode, hasil utama, serta implikasi penelitian secara ringkas namun padat.

Scopus sendiri mengindeks metadata artikel, termasuk abstraknya. Artinya, kualitas abstrak akan sangat memengaruhi peluang artikel ditemukan melalui mesin pencari ilmiah seperti Scopus, Google Scholar, Dimensions, maupun OpenAlex.

Beberapa editor jurnal internasional bahkan menyarankan abstrak sepanjang 200–300 kata agar informasi yang disampaikan cukup komprehensif.

Selain itu, hindari penggunaan hasil terjemahan otomatis tanpa penyuntingan manusia. Bahasa Inggris akademik memiliki struktur dan gaya yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Kesalahan tata bahasa pada abstrak dapat menurunkan kesan profesional jurnal.

Referensi resmi:

Elsevier Author Services
https://scientific-publishing.webshop.elsevier.com
Scopus Search Tips
https://service.elsevier.com/app/answer ... _id/15181/
3. Pertimbangkan Menerjemahkan Artikel Utama ke Bahasa Inggris
Bahasa merupakan salah satu faktor penting dalam internasionalisasi jurnal. Walaupun Scopus tidak mewajibkan seluruh artikel menggunakan bahasa Inggris, penggunaan bahasa internasional akan memperluas jangkauan pembaca dan meningkatkan peluang sitasi.

Banyak jurnal nasional yang berhasil masuk Scopus karena secara bertahap meningkatkan proporsi artikel berbahasa Inggris. Untuk jurnal yang masih berkembang, strategi yang realistis adalah menerbitkan sebagian artikel terbaik dalam bahasa Inggris sambil tetap mempertahankan artikel berbahasa nasional sesuai kebutuhan pembaca lokal.

Penerjemahan artikel tidak boleh dilakukan secara asal. Idealnya, proses penerjemahan dilakukan oleh penerjemah akademik yang memahami bidang ilmu terkait, kemudian dilanjutkan dengan proofreading oleh penutur asli (native speaker) atau editor profesional.

Selain meningkatkan visibilitas internasional, artikel berbahasa Inggris juga lebih mudah ditemukan melalui berbagai database internasional sehingga peluang sitasi menjadi lebih besar.

Referensi:

Elsevier Language Editing Services
https://webshop.elsevier.com/language-editing/
Springer Nature Author Services
https://authorservices.springernature.com
4. Miliki Focus and Scope yang Unik
Salah satu alasan utama jurnal ditolak Scopus adalah karena dianggap tidak memiliki diferensiasi dibandingkan jurnal lain yang sudah lebih dahulu terindeks.

Scopus tidak hanya mencari jurnal yang berkualitas, tetapi juga jurnal yang memiliki identitas akademik yang jelas. Oleh karena itu, focus and scope harus dirumuskan secara spesifik sehingga menunjukkan niche atau bidang keahlian tertentu.

Sebagai contoh, daripada menggunakan ruang lingkup yang terlalu luas seperti Education, jurnal dapat mengkhususkan diri pada English Language Teaching in Islamic Higher Education, Islamic Educational Technology, atau Vocational English Education. Fokus yang lebih sempit justru memperkuat identitas jurnal dan memudahkan pembaca mengenali kontribusinya.

Editor juga perlu melakukan pemetaan terhadap jurnal-jurnal Scopus yang sudah ada agar tidak sekadar meniru ruang lingkup mereka. Gunakan database Scopus atau Scopus Sources untuk melihat apakah niche yang dipilih masih memiliki ruang pengembangan.

Referensi:

Scopus Sources
https://www.scopus.com/sources
Scopus Content Policy and Selection
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
5. Pastikan Konsistensi antara Focus and Scope dengan Artikel yang Diterbitkan
Kesalahan yang masih sering ditemukan pada jurnal berkembang adalah adanya ketidaksesuaian antara ruang lingkup jurnal dengan artikel yang diterbitkan.

Misalnya, jurnal menyatakan fokus pada "Islamic Law in Southeast Asia", tetapi sebagian besar artikel justru membahas pendidikan, ekonomi, atau bahkan teknologi tanpa kaitan dengan hukum Islam. Ketidakkonsistenan seperti ini akan menunjukkan bahwa jurnal belum memiliki arah editorial yang jelas.

Editor harus memastikan bahwa setiap naskah yang diterima benar-benar sesuai dengan ruang lingkup jurnal. Apabila artikel berada di luar fokus jurnal, sebaiknya ditolak sejak tahap desk evaluation, meskipun kualitasnya baik.

Konsistensi ini akan membangun reputasi jurnal sebagai rujukan utama pada bidang tertentu. Dalam jangka panjang, identitas yang kuat akan meningkatkan jumlah sitasi karena para peneliti mengetahui bahwa jurnal tersebut memang menjadi tempat publikasi utama pada disiplin ilmu tertentu.

Referensi:

Directory of Open Access Journals (DOAJ) Best Practice Guide
https://doaj.org/bestpractice
Committee on Publication Ethics (COPE)
https://publicationethics.org
20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus
Bagian 2
Memperkuat Tata Kelola, Transparansi, dan Reputasi Editorial
Pada bagian pertama telah dibahas bahwa kualitas artikel dan kejelasan fokus jurnal merupakan fondasi utama dalam proses seleksi Scopus. Namun, kualitas artikel saja tidak cukup. Dalam beberapa tahun terakhir, Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus semakin memberikan perhatian besar terhadap governance, transparansi pengelolaan jurnal, integritas editorial, serta reputasi akademik tim editor.Hal ini sejalan dengan berkembangnya berbagai standar internasional seperti Principles of Transparency and Best Practice in Scholarly Publishing yang disusun oleh Committee on Publication Ethics (COPE), Directory of Open Access Journals (DOAJ), Open Access Scholarly Publishing Association (OASPA), dan World Association of Medical Editors (WAME). Jurnal yang ingin diakui secara internasional harus mampu menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menerbitkan artikel berkualitas, tetapi juga dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
6. Hindari Jurnal yang Tidak Memiliki Fokus (Too Broad Journal)
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh jurnal yang baru berkembang adalah membuat ruang lingkup yang terlalu luas dengan harapan dapat menerima lebih banyak artikel. Misalnya, sebuah jurnal menyatakan menerima artikel dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum, pertanian, kesehatan, teknologi, sosial, dan humaniora sekaligus. Strategi seperti ini justru berpotensi menurunkan kredibilitas jurnal di mata evaluator Scopus.Dalam dunia publikasi ilmiah internasional, jurnal yang memiliki fokus yang sangat spesifik (niche journal) cenderung lebih mudah membangun reputasi dibandingkan jurnal yang mencakup terlalu banyak disiplin ilmu. Hal ini karena komunitas ilmiah membutuhkan media publikasi yang benar-benar menjadi rujukan dalam bidang tertentu, bukan jurnal yang bersifat umum tanpa identitas yang kuat.Sebagai ilustrasi, jurnal dengan fokus Artificial Intelligence in Healthcare akan lebih mudah dikenali oleh peneliti dibandingkan jurnal yang hanya mengusung tema besar Science and Technology. Demikian pula, jurnal Islamic Accounting and Finance memiliki positioning yang lebih jelas dibandingkan jurnal yang hanya menggunakan nama Business Journal.Sebelum menentukan ruang lingkup, editor disarankan melakukan pemetaan terhadap jurnal-jurnal yang telah terindeks Scopus pada bidang yang sama. Tujuannya bukan untuk meniru, melainkan untuk menemukan celah (research niche) yang belum banyak diisi oleh jurnal lain.Sumber resmi yang dapat dipelajari:
Scopus Sources Database
https://www.scopus.com/sources
Elsevier Journal Selection Policy
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
7. Terapkan Kebijakan Publikasi yang Transparan
Salah satu indikator penting dalam evaluasi Scopus adalah tingkat transparansi pengelolaan jurnal. Saat ini, jurnal bereputasi internasional tidak hanya dinilai dari kualitas artikelnya, tetapi juga dari bagaimana mereka mengelola seluruh proses editorial secara terbuka dan akuntabel.Website jurnal sebaiknya memuat berbagai kebijakan penting yang mudah ditemukan oleh penulis maupun pembaca. Beberapa kebijakan yang sebaiknya tersedia antara lain:
Publication Ethics
Peer Review Policy
Editorial Process
Authorship Policy
Conflict of Interest
Copyright Policy
Licensing Information
Data Sharing Policy
Complaint and Appeal Procedure
Corrections, Retractions, and Withdrawals
Publication Fee (APC) Policy
AI-generated Content Policy (mulai banyak diterapkan sejak 2023)
Semakin lengkap dan transparan informasi tersebut, semakin besar kepercayaan komunitas akademik terhadap jurnal.Banyak jurnal yang ditolak bukan karena kualitas artikelnya buruk, tetapi karena website jurnal belum memenuhi standar transparansi internasional.Pedoman resmi mengenai transparansi penerbitan ilmiah dapat dipelajari melalui:
Principles of Transparency and Best Practice in Scholarly Publishing
https://doaj.org/apply/transparency
Committee on Publication Ethics (COPE)
https://publicationethics.org
Open Access Scholarly Publishing Association (OASPA)
https://oaspa.org
8. Cantumkan Archiving Policy yang Jelas
Salah satu aspek yang sering diabaikan oleh pengelola jurnal di Indonesia adalah kebijakan pengarsipan digital (Digital Preservation/Archiving Policy).Scopus maupun DOAJ ingin memastikan bahwa artikel ilmiah akan tetap dapat diakses meskipun suatu saat jurnal berhenti terbit atau server penerbit mengalami gangguan. Oleh karena itu, jurnal perlu memiliki sistem pelestarian arsip digital yang terpercaya.Beberapa layanan pengarsipan yang diakui secara internasional antara lain:
CLOCKSS (Controlled LOCKSS), yaitu sistem pelestarian digital berbasis komunitas internasional.
LOCKSS (Lots of Copies Keep Stuff Safe), yang memungkinkan perpustakaan menyimpan salinan konten jurnal.
PKP Preservation Network (PKP PN), layanan gratis yang disediakan bagi jurnal pengguna Open Journal Systems (OJS).
Portico, salah satu sistem preservasi digital terbesar di dunia.
Bagi sebagian besar jurnal yang menggunakan Open Journal Systems (OJS), PKP Preservation Network merupakan pilihan yang paling mudah dan ekonomis karena telah terintegrasi dengan OJS.Selain itu, kebijakan archiving perlu ditampilkan secara jelas pada menu website jurnal sehingga dapat diakses oleh publik.Referensi resmi:
PKP Preservation Network
https://pkp.sfu.ca/pkp-pn/
CLOCKSS
https://clockss.org
LOCKSS Program
https://www.lockss.org
Portico
https://www.portico.org
B. Strategi Penguatan Tim Editorial dan Penulis
9. Perhatikan H-index Penulis dan Editor
Dalam evaluasi Scopus, reputasi ilmiah editor dan penulis merupakan salah satu indikator yang cukup diperhatikan. Meskipun tidak terdapat aturan resmi mengenai batas minimal H-index, jurnal yang dikelola oleh akademisi aktif dengan rekam jejak publikasi yang baik umumnya memiliki peluang lebih besar untuk dipercaya.H-index merupakan indikator yang menggambarkan produktivitas sekaligus dampak sitasi seorang peneliti. Semakin tinggi nilai H-index, semakin besar kemungkinan peneliti tersebut telah menghasilkan karya ilmiah yang banyak dirujuk oleh peneliti lain.Editor dengan H-index yang baik biasanya memiliki:
pengalaman publikasi internasional,
jaringan akademik yang luas,
kemampuan memilih reviewer yang kompeten,
pemahaman terhadap standar publikasi global.
Sebaliknya, apabila Editor in Chief hampir tidak memiliki publikasi internasional, evaluator dapat mempertanyakan kapasitas akademiknya dalam memimpin jurnal menuju standar internasional.Forum Relawan Jurnal bahkan pernah mengusulkan strategi menarik berupa pembebasan biaya APC bagi penulis yang memiliki H-index tinggi. Strategi ini dapat meningkatkan kualitas artikel sekaligus memperluas jejaring akademik jurnal.Untuk memeriksa H-index, beberapa platform yang dapat digunakan antara lain:
Scopus Author Profile
https://www.scopus.com
ORCID
https://orcid.org
Google Scholar Profiles
https://scholar.google.com
OpenAlex
https://openalex.org
10. H-index Editor Sebaiknya Lebih Tinggi daripada Reviewer
Di beberapa jurnal Indonesia masih terdapat paradigma bahwa reviewer harus memiliki reputasi yang lebih tinggi dibandingkan editor. Dalam praktik jurnal internasional, kondisi tersebut justru sering kali berlawanan.Editor, khususnya Editor in Chief, merupakan pemimpin akademik jurnal. Ia bertanggung jawab terhadap:
arah pengembangan jurnal,
kebijakan editorial,
kualitas artikel,
penunjukan reviewer,
keputusan akhir publikasi.
Karena tanggung jawab tersebut sangat besar, Editor in Chief idealnya memiliki reputasi ilmiah yang lebih kuat dibandingkan sebagian besar reviewer.Seorang editor yang aktif menulis di jurnal bereputasi internasional akan lebih memahami berbagai persoalan seperti:
ethical publishing,
plagiarism handling,
reviewer management,
publication misconduct,
indexing requirements,
citation analysis,
journal metrics.
Dengan demikian, editor tidak hanya berfungsi sebagai administrator, tetapi juga sebagai pemimpin ilmiah (academic leader).Selain H-index, evaluator juga akan melihat apakah editor masih aktif melakukan penelitian dan publikasi dalam lima tahun terakhir. Editor yang tidak lagi produktif dapat memberikan kesan bahwa jurnal kurang berkembang secara akademik.Referensi mengenai identitas akademik peneliti:
ORCID
https://orcid.org
Scopus Author Identifier
https://service.elsevier.com/app/answer ... a_id/11201
Crossref Metadata
https://www.crossref.org
Penutup Bagian 2
Dari lima strategi pada bagian ini terlihat bahwa proses menuju Scopus tidak hanya bergantung pada kualitas artikel, tetapi juga pada profesionalisme pengelolaan jurnal. Transparansi kebijakan, keberlanjutan arsip digital, serta reputasi ilmiah editor merupakan fondasi penting yang akan dinilai secara menyeluruh oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB). Banyak jurnal yang telah memiliki artikel berkualitas, tetapi gagal memperoleh indeksasi karena belum memenuhi standar tata kelola internasional.
20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus
Bagian 3
Internasionalisasi Editorial Board, Penulis, dan Konsistensi Penerbitan
Setelah membangun fondasi tata kelola jurnal yang transparan dan memperkuat kualitas editor, langkah berikutnya adalah melakukan internasionalisasi jurnal. Dalam beberapa tahun terakhir, Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus semakin memperhatikan sejauh mana sebuah jurnal telah menjadi bagian dari komunitas ilmiah internasional. Penilaian ini tidak hanya dilihat dari bahasa yang digunakan, tetapi juga dari keragaman editor, reviewer, penulis, pembaca, serta dampak sitasi yang dihasilkan.Banyak jurnal yang telah memiliki kualitas artikel yang baik, namun masih gagal memperoleh indeksasi Scopus karena terlalu didominasi oleh satu institusi, satu negara, atau bahkan satu kelompok penulis saja. Oleh sebab itu, internasionalisasi bukan sekadar menambahkan kata "International Journal" pada nama jurnal, melainkan membangun ekosistem ilmiah yang benar-benar melibatkan komunitas akademik global.
11. Perluas Tim Editorial dengan Reputasi Internasional
Salah satu indikator yang paling mudah diamati oleh evaluator Scopus adalah komposisi Editorial Board. Ketika evaluator membuka halaman "Editorial Team" pada situs jurnal, mereka akan melihat apakah jurnal tersebut dikelola oleh komunitas ilmiah yang beragam atau hanya didominasi oleh satu institusi.Editorial board yang berasal dari berbagai negara menunjukkan bahwa jurnal memiliki jejaring akademik internasional dan dipercaya oleh para ahli di berbagai belahan dunia. Sebaliknya, jika hampir seluruh editor berasal dari satu universitas atau satu negara, jurnal akan dipandang memiliki jangkauan yang masih terbatas.Idealnya, anggota editorial board memiliki karakteristik berikut:
Berasal dari berbagai universitas bereputasi.
Memiliki rekam jejak publikasi internasional yang kuat.
Aktif melakukan penelitian dalam bidang yang sesuai dengan fokus jurnal.
Memiliki profil akademik yang mudah diverifikasi melalui ORCID, Scopus Author ID, atau Google Scholar.
Bersedia berkontribusi aktif, bukan hanya mencantumkan nama.
Keberadaan editor internasional tidak boleh bersifat simbolis. Mereka sebaiknya benar-benar dilibatkan dalam proses editorial, seperti memberikan masukan terhadap kebijakan jurnal, membantu mencari reviewer, mempromosikan jurnal di jejaring akademiknya, atau menangani naskah sesuai bidang keahliannya.Selain itu, informasi mengenai setiap editor perlu ditampilkan secara lengkap di website jurnal, meliputi:
nama lengkap,
afiliasi institusi,
negara,
alamat ORCID,
Scopus Author ID (jika tersedia),
bidang keahlian.
Transparansi ini akan meningkatkan kredibilitas jurnal sekaligus memudahkan evaluator memverifikasi reputasi setiap editor.
Referensi Resmi
ORCID
https://orcid.org
Scopus Author Identifier
https://service.elsevier.com/app/answer ... a_id/11201
Crossref
https://www.crossref.org
12. Libatkan Penulis dari Berbagai Negara
Salah satu kelemahan yang masih sering ditemukan pada jurnal di negara berkembang adalah rendahnya keragaman geografis penulis. Tidak sedikit jurnal yang lebih dari 90% artikelnya berasal dari satu negara, bahkan dari satu universitas yang sama.Bagi evaluator Scopus, kondisi ini menunjukkan bahwa jurnal belum berhasil menarik perhatian komunitas ilmiah internasional. Padahal, salah satu fungsi utama jurnal internasional adalah menjadi media pertukaran gagasan lintas negara.Internasionalisasi kepenulisan dapat dilakukan secara bertahap melalui berbagai strategi, antara lain:
mengadakan Call for Papers internasional;
bekerja sama dengan asosiasi profesi internasional;
menyelenggarakan konferensi internasional yang terhubung dengan jurnal;
memberikan insentif atau diskon biaya publikasi bagi penulis luar negeri;
mengundang peneliti asing sebagai guest author atau invited author;
mempromosikan jurnal melalui media sosial akademik seperti ResearchGate, LinkedIn, Academia.edu, dan mailing list ilmiah.
Editor juga perlu memperhatikan distribusi asal penulis pada setiap terbitan. Misalnya, apabila satu edisi terdiri atas sepuluh artikel, akan lebih baik jika artikel tersebut berasal dari beberapa negara yang berbeda daripada seluruhnya berasal dari satu institusi.Keragaman geografis ini menunjukkan bahwa jurnal telah menjadi wadah komunikasi ilmiah internasional, bukan sekadar media publikasi internal.
Referensi Resmi
ResearchGate
https://www.researchgate.net
ORCID
https://orcid.org
Crossref
https://www.crossref.org
Dimensions
https://www.dimensions.ai
13. Keragaman Editor Minimal dari Tiga Benua
Prof. Istadi (Universitas Diponegoro), yang banyak berbagi pengalaman mengenai internasionalisasi jurnal, menekankan pentingnya komposisi editor yang mewakili beberapa kawasan dunia. Meskipun tidak ada aturan baku dari Scopus mengenai jumlah negara atau benua, pengalaman berbagai jurnal menunjukkan bahwa keberagaman ini menjadi salah satu indikator positif dalam proses evaluasi.Sebagai ilustrasi, sebuah editorial board dapat mencakup akademisi dari:
Asia (Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan),
Eropa (Inggris, Belanda, Jerman),
Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada),
Australia/Oseania (Australia, Selandia Baru),
Afrika (Afrika Selatan, Mesir).
Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa jurnal memiliki jejaring ilmiah global dan tidak berorientasi pada satu kawasan saja.Namun demikian, yang lebih penting daripada sekadar jumlah negara adalah kualitas akademik para editor. Satu editor yang aktif dan bereputasi jauh lebih bernilai dibandingkan sepuluh editor yang hanya mencantumkan nama tanpa pernah berkontribusi.Untuk itu, editor utama perlu membangun hubungan profesional jangka panjang dengan para akademisi internasional melalui:
kolaborasi penelitian,
seminar internasional,
konferensi ilmiah,
proyek penelitian bersama,
asosiasi keilmuan internasional.
Hubungan yang dibangun secara alami biasanya menghasilkan komitmen editorial yang lebih kuat dibandingkan sekadar mengirimkan undangan melalui email.
Referensi Resmi
Committee on Publication Ethics (COPE)
https://publicationethics.org
World Association of Medical Editors (WAME)
https://www.wame.org
Open Access Scholarly Publishing Association (OASPA)
https://oaspa.org
C. Strategi Manajemen dan Operasional Jurnal
14. Jaga Konsistensi Jumlah Artikel pada Setiap Issue
Konsistensi merupakan salah satu indikator profesionalisme pengelolaan jurnal. Banyak editor lebih berfokus mengejar jumlah artikel sebanyak mungkin, tetapi mengabaikan konsistensi penerbitan.Sebagai contoh, apabila jurnal menetapkan bahwa setiap edisi memuat enam artikel, maka sebaiknya jumlah tersebut dipertahankan secara konsisten pada setiap terbitan. Perubahan yang terlalu sering—misalnya enam artikel pada edisi pertama, sembilan pada edisi berikutnya, kemudian lima pada edisi selanjutnya—dapat memberikan kesan bahwa manajemen jurnal belum stabil.Selain jumlah artikel, konsistensi juga mencakup:
jadwal penerbitan yang selalu tepat waktu;
jumlah edisi setiap tahun;
format penulisan artikel;
struktur metadata;
gaya sitasi;
kualitas penyuntingan bahasa.
Evaluator Scopus akan melihat histori penerbitan jurnal selama beberapa tahun. Oleh karena itu, jurnal sebaiknya memiliki rekam jejak penerbitan yang stabil sebelum mengajukan indeksasi.Salah satu praktik baik yang dilakukan banyak jurnal bereputasi adalah menerbitkan artikel sesuai kalender akademik yang telah diumumkan jauh hari sebelumnya sehingga penulis dan pembaca mengetahui kapan edisi berikutnya akan diterbitkan.
Referensi Resmi
Open Journal Systems (PKP)
https://pkp.sfu.ca/ojs/
DOAJ Best Practice
https://doaj.org/bestpractice
15. Artikel Berbahasa Inggris Harus Diproofread oleh Native Speaker atau Editor Profesional
Bahasa merupakan wajah pertama yang dilihat pembaca internasional. Artikel dengan metodologi yang sangat baik sekalipun dapat kehilangan kredibilitas apabila ditulis dalam bahasa Inggris yang tidak alami atau dipenuhi kesalahan tata bahasa.Saat ini banyak penulis menggunakan alat berbasis kecerdasan buatan seperti Google Translate, Grammarly, DeepL, atau QuillBot. Alat-alat tersebut memang sangat membantu pada tahap awal penyuntingan, tetapi belum mampu menggantikan penilaian seorang editor manusia yang memahami konteks akademik.Kesalahan yang sering ditemukan dalam artikel hasil terjemahan otomatis antara lain:
penggunaan istilah ilmiah yang tidak tepat;
struktur kalimat yang mengikuti pola bahasa Indonesia;
inkonsistensi penggunaan istilah teknis;
penggunaan frasa yang terdengar tidak alami bagi pembaca internasional;
ketidakselarasan antara hasil penelitian dan pembahasan akibat kesalahan interpretasi bahasa.
Oleh karena itu, artikel yang akan dipublikasikan dalam bahasa Inggris sebaiknya melalui tahapan berikut:
Penulisan naskah oleh penulis.
Pemeriksaan tata bahasa menggunakan perangkat lunak (misalnya Grammarly atau LanguageTool).
Penyuntingan substantif oleh editor akademik yang memahami bidang ilmu terkait.
Proofreading akhir oleh native speaker atau profesional bahasa Inggris akademik sebelum artikel dipublikasikan.
Perlu dipahami bahwa proofreading bukan hanya memperbaiki tata bahasa, tetapi juga memastikan bahwa argumen ilmiah disampaikan secara jelas, logis, dan sesuai dengan gaya penulisan akademik internasional.Banyak penerbit besar seperti Elsevier dan Springer menyediakan layanan language editing yang dapat menjadi acuan standar kualitas.
Referensi Resmi
Elsevier Author Services
https://webshop.elsevier.com/language-editing/
Springer Nature Author Services
https://authorservices.springernature.com
American Journal Experts (AJE)
https://www.aje.com
Penutup Bagian 3
Kelima strategi pada bagian ini menegaskan bahwa internasionalisasi jurnal tidak cukup hanya dengan mengganti bahasa atau menambahkan editor asing. Internasionalisasi yang sesungguhnya tercermin dari keberagaman editor dan penulis, keterlibatan aktif komunitas ilmiah global, konsistensi pengelolaan jurnal, serta kualitas komunikasi ilmiah melalui bahasa Inggris yang profesional.
Dalam praktiknya, jurnal yang berhasil mencapai indeksasi Scopus hampir selalu menunjukkan keseimbangan antara kualitas konten, reputasi editorial, keragaman internasional, dan manajemen penerbitan yang konsisten. Kombinasi inilah yang membangun kepercayaan evaluator bahwa jurnal mampu memberikan kontribusi berkelanjutan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus
Bagian 4 (Bagian Terakhir)
Roadmap Akhir Menuju Jurnal Bereputasi Internasional dan Terindeks Scopus
Pada tiga bagian sebelumnya telah dibahas bahwa keberhasilan sebuah jurnal untuk masuk ke dalam Scopus tidak hanya ditentukan oleh kualitas artikel, tetapi juga oleh tata kelola editorial, transparansi kebijakan, internasionalisasi dewan editor, keragaman penulis, serta konsistensi penerbitan. Pada bagian terakhir ini akan dibahas lima strategi yang sering menjadi pembeda antara jurnal yang sekadar memenuhi persyaratan administratif dengan jurnal yang benar-benar siap bersaing di tingkat internasional.Selain itu, bagian ini juga menyajikan berbagai tautan resmi (official links) yang dapat dijadikan rujukan oleh pengelola jurnal dalam melakukan evaluasi mandiri maupun pengembangan kualitas jurnal secara berkelanjutan.
16. Tampilkan Visi Jurnal dengan Jelas di Website
Salah satu halaman yang sering diabaikan oleh pengelola jurnal adalah Aims and Scope atau About the Journal. Banyak jurnal hanya menuliskan dua atau tiga kalimat singkat mengenai tujuan jurnal tanpa memberikan penjelasan yang cukup tentang posisi ilmiah (scientific positioning) jurnal tersebut.Padahal, halaman ini merupakan salah satu bagian pertama yang dibaca oleh evaluator Content Selection and Advisory Board (CSAB) ketika menilai identitas jurnal. Mereka ingin mengetahui mengapa jurnal tersebut didirikan, siapa target pembacanya, kontribusi apa yang ingin diberikan kepada perkembangan ilmu pengetahuan, serta bagaimana jurnal tersebut membedakan diri dari jurnal lain yang telah ada.Visi jurnal yang baik sebaiknya mampu menjawab beberapa pertanyaan berikut.
Mengapa jurnal ini perlu ada?
Masalah ilmiah apa yang ingin diselesaikan?
Siapa komunitas akademik yang menjadi target utama?
Apa kontribusi unik jurnal terhadap perkembangan disiplin ilmu?
Bagaimana jurnal membangun kolaborasi penelitian internasional?
Sebagai contoh, daripada hanya menuliskan:
"This journal publishes research articles in education."
Akan lebih kuat apabila ditulis:
"This journal serves as an international platform for disseminating innovative research in English Language Teaching within Islamic higher education and multilingual contexts, emphasizing interdisciplinary collaboration, digital pedagogy, and sustainable educational development."
Perumusan visi seperti ini memberikan identitas yang lebih jelas sekaligus memperlihatkan arah pengembangan jurnal dalam jangka panjang.Selain itu, halaman About the Journal sebaiknya juga menjelaskan:
sejarah singkat jurnal,
frekuensi penerbitan,
proses peer review,
target pembaca,
indeksasi yang telah diperoleh,
etika publikasi,
komitmen terhadap Open Science.
Referensi Resmi
DOAJ Best Practice Guide
https://doaj.org/bestpractice
COPE (Committee on Publication Ethics)
https://publicationethics.org
Scopus Content Policy and Selection
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
17. Jangan Mengklaim sebagai Jurnal Internasional Jika Fokusnya Masih Lokal
Kesalahan lain yang masih sering dijumpai adalah penggunaan istilah International Journal hanya sebagai nama, tanpa didukung oleh praktik pengelolaan yang benar-benar internasional.Evaluator Scopus tidak menilai nama jurnal, melainkan kualitas implementasinya. Sebuah jurnal dapat menggunakan kata "International", tetapi jika:
seluruh editor berasal dari satu universitas,
hampir semua penulis berasal dari satu negara,
referensi didominasi literatur lokal,
artikel hanya membahas persoalan lokal tanpa relevansi global,
maka jurnal tersebut belum dapat dianggap memiliki karakter internasional.Sebaliknya, banyak jurnal yang tidak menggunakan kata "International" justru berhasil memperoleh indeksasi Scopus karena memiliki jaringan editor internasional, penulis dari berbagai negara, dan artikel yang memberikan kontribusi terhadap isu-isu global.Contoh yang sering dijadikan praktik baik adalah beberapa jurnal Indonesia yang secara jujur menampilkan fokus penelitian pada konteks nasional, tetapi mengaitkannya dengan diskursus internasional. Misalnya, penggunaan frasa seperti:
in the Indonesian Context,
from Southeast Asian Perspectives,
Comparative Studies in Muslim Societies.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa jurnal memiliki akar penelitian lokal, tetapi menawarkan kontribusi yang dapat dipelajari oleh komunitas ilmiah global.Dalam dunia akademik, konteks lokal bukanlah kelemahan. Yang menjadi persoalan adalah apabila penelitian lokal tidak mampu memberikan implikasi yang lebih luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan internasional.
Referensi Resmi
Scopus Sources Database
https://www.scopus.com/sources
Elsevier Scopus Journal Evaluation
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
18. Daftarkan Jurnal ke DOAJ dan Indeks Bereputasi Lain Sebelum Mengajukan ke Scopus
Salah satu strategi yang banyak dilakukan oleh jurnal yang kini telah terindeks Scopus adalah membangun rekam jejak indeksasi secara bertahap. Alih-alih langsung mengajukan ke Scopus, jurnal terlebih dahulu memastikan bahwa mereka telah memenuhi standar berbagai pangkalan data bereputasi.Beberapa indeks yang sering dijadikan batu loncatan antara lain:
Directory of Open Access Journals (DOAJ) – untuk jurnal akses terbuka yang memenuhi standar transparansi dan kualitas editorial.
ASEAN Citation Index (ACI) – meningkatkan visibilitas jurnal di kawasan Asia Tenggara.
Google Scholar – memperluas keterindeksan artikel di mesin pencari akademik.
Crossref – menyediakan DOI dan metadata yang terhubung secara global.
Dimensions – meningkatkan keterlacakan sitasi dan dampak penelitian.
OpenAlex – basis data ilmiah terbuka yang semakin banyak digunakan untuk analisis bibliometrik.
Garuda dan SINTA – sebagai fondasi penguatan reputasi jurnal di Indonesia.
Semakin banyak indeks bereputasi yang mengakui jurnal, semakin besar peluang jurnal memperoleh perhatian dari komunitas ilmiah internasional. Selain meningkatkan visibilitas, proses seleksi di berbagai indeks tersebut juga membantu editor mengidentifikasi kelemahan jurnal sebelum diajukan ke Scopus.
Tautan Resmi
DOAJ
https://doaj.org
Formulir Pendaftaran DOAJ
https://doaj.org/apply
ASEAN Citation Index (ACI)
https://asean-cites.org
Crossref
https://www.crossref.org
Dimensions
https://www.dimensions.ai
OpenAlex
https://openalex.org
Garuda
https://garuda.kemdikbud.go.id
SINTA
https://sinta.kemdikbud.go.id
19. Lakukan Self-Assessment Sebelum Submit ke Scopus
Kesalahan terbesar banyak editor adalah mengajukan jurnal ke Scopus terlalu dini. Setelah ditolak, jurnal harus menunggu masa evaluasi ulang (re-evaluation embargo), yang dapat berlangsung beberapa tahun tergantung hasil penilaian. Oleh karena itu, evaluasi mandiri (self-assessment) menjadi langkah yang sangat penting sebelum mengirimkan usulan.Evaluasi sebaiknya dilakukan secara sistematis dengan memeriksa berbagai aspek, antara lain:
kualitas dan konsistensi artikel,
ketepatan fokus dan ruang lingkup,
reputasi editor dan reviewer,
keberagaman geografis editor dan penulis,
ketepatan waktu penerbitan,
kelengkapan kebijakan publikasi,
sistem pengarsipan digital,
kualitas metadata,
penggunaan DOI,
tingkat sitasi,
kualitas website jurnal,
kepatuhan terhadap prinsip transparansi.
Selain menggunakan daftar periksa internal, editor juga dapat memanfaatkan beberapa sumber evaluasi berikut.
Ready for Scopus
Website ini membantu editor memahami berbagai aspek yang perlu dipersiapkan sebelum mengajukan jurnal ke Scopus.https://www.readyforscopus.com
Scopus Title Suggestion
Portal resmi untuk pengajuan jurnal baru ke Scopus.https://suggestor.step.scopus.com/sugge ... /step1.cfm
Scopus Content Policy
https://www.elsevier.com/products/scopu ... -selection
DOAJ Transparency Guide
https://doaj.org/apply/transparency
COPE Ethical Guidelines
https://publicationethics.orgDisarankan untuk membentuk tim audit internal jurnal yang secara berkala melakukan evaluasi berdasarkan indikator-indikator tersebut. Dengan demikian, perbaikan dapat dilakukan sebelum jurnal diajukan ke Scopus.
20. Berdoa, Bangun Budaya Integritas, dan Lakukan Perbaikan Berkelanjutan
Forum Relawan Jurnal menyampaikan sebuah pesan sederhana namun bermakna: usaha bumi 10%, usaha langit 90%. Pesan ini mengingatkan bahwa keberhasilan menuju Scopus bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan integritas.Terlepas dari dimensi spiritual yang menjadi keyakinan masing-masing individu, ada nilai universal yang sangat relevan bagi seluruh pengelola jurnal, yaitu budaya perbaikan berkelanjutan (continuous quality improvement). Jurnal yang berhasil mencapai reputasi internasional umumnya tidak berfokus pada "bagaimana cepat diterima Scopus", melainkan pada "bagaimana menjadi jurnal yang benar-benar berkualitas dan bermanfaat bagi komunitas ilmiah".Budaya tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa langkah berikut:
melakukan evaluasi rutin setiap selesai menerbitkan satu edisi;
mendengarkan masukan dari penulis, reviewer, dan pembaca;
memperbarui kebijakan editorial mengikuti perkembangan standar internasional;
meningkatkan kapasitas editor melalui pelatihan dan seminar;
memanfaatkan teknologi seperti DOI, ORCID, Crossref Similarity Check, dan sistem preservasi digital;
menjaga integritas akademik dengan menolak segala bentuk plagiarisme, manipulasi sitasi, dan praktik editorial yang tidak etis.
Apabila jurnal dikelola dengan komitmen seperti ini, maka indeksasi Scopus akan menjadi konsekuensi logis dari kualitas yang terus dibangun, bukan sekadar target administratif.
Roadmap Praktis Menuju Scopus
Agar lebih mudah diimplementasikan, berikut tahapan yang disarankan:
Tahap Target
Tahap 1 Perkuat kualitas artikel, peer review, dan kebijakan publikasi.
Tahap 2 Lengkapi DOI, ORCID, Crossref, metadata, dan archiving policy.
Tahap 3 Bangun editorial board internasional dari minimal 3–4 benua dan perluas penulis dari berbagai negara.
Tahap 4 Daftarkan jurnal ke DOAJ, ACI, Dimensions, OpenAlex, Garuda, dan SINTA.
Tahap 5 Tingkatkan kualitas sitasi, konsistensi penerbitan, dan dampak ilmiah jurnal.
Tahap 6 Lakukan self-assessment menggunakan pedoman Scopus, DOAJ, dan COPE.
Tahap 7 Ajukan jurnal melalui portal resmi Scopus setelah seluruh indikator menunjukkan kesiapan.
Penutup
Menjadikan sebuah jurnal terindeks Scopus bukanlah proyek jangka pendek, melainkan proses transformasi kelembagaan yang membutuhkan visi, kepemimpinan akademik, tata kelola yang transparan, dan komitmen terhadap mutu. Berdasarkan pengalaman banyak jurnal yang berhasil, proses tersebut umumnya berlangsung selama beberapa tahun dan melibatkan peningkatan kualitas secara bertahap pada seluruh aspek pengelolaan jurnal.
Pada akhirnya, tujuan utama bukanlah sekadar memperoleh label "terindeks Scopus", tetapi membangun jurnal yang dipercaya oleh komunitas ilmiah internasional sebagai media diseminasi penelitian yang bermutu, beretika, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika kualitas menjadi budaya organisasi, indeksasi Scopus akan menjadi hasil alami dari proses perbaikan yang konsisten dan berkelanjutan.

Re: 20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus

Posted: 05 Jul 2026, 22:09
by faizal
Indeksasi Scopus bukan sekadar persoalan mengirimkan formulir pendaftaran ke Elsevier. Di balik keberhasilan sebuah jurnal masuk ke dalam basis data Scopus terdapat proses panjang yang melibatkan peningkatan kualitas tata kelola jurnal (journal management), kualitas artikel ilmiah, reputasi dewan editor, konsistensi penerbitan, hingga dampak ilmiah (scientific impact) yang dihasilkan. Tidak sedikit jurnal yang harus melakukan pembenahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memperoleh status terindeks Scopus. Berdasarkan berbagai pengalaman editor jurnal internasional, rekomendasi Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus, serta berbagai praktik baik yang dibagikan melalui PegiatJurnal.com dan forum.relawanjurnal.id, terdapat sejumlah strategi yang terbukti mampu meningkatkan peluang jurnal untuk diterima oleh Scopus. Artikel ini mengembangkan 20 strategi tersebut dengan tambahan penjelasan berdasarkan pedoman resmi dari Scopus, DOAJ, COPE, OASPA, Crossref, hingga PKP. Perlu dipahami bahwa tidak ada satu pun "jalan pintas" agar jurnal dapat langsung diterima Scopus. Yang dinilai oleh CSAB bukan hanya kualitas artikel, tetapi juga integritas tata kelola jurnal, keberlanjutan penerbitan, transparansi kebijakan, serta kontribusi jurnal terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara global. Kualitas artikel merupakan faktor paling penting dalam proses evaluasi jurnal oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus. Sebagus apa pun tampilan website jurnal, sebanyak apa pun editor internasional yang dimiliki, ataupun seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk promosi, seluruhnya tidak akan berarti apabila artikel yang diterbitkan tidak memberikan kontribusi ilmiah yang nyata. Artikel berkualitas tidak hanya berarti bebas plagiarisme. Sebuah artikel harus menawarkan novelty (kebaruan ilmiah), metodologi yang kuat, analisis yang mendalam, diskusi yang kritis, serta referensi yang mutakhir. Tim CSAB akan melihat apakah artikel-artikel dalam jurnal benar-benar menjadi rujukan bagi komunitas ilmiah internasional https://www.pegiatjurnal.com/2026/07/20 ... urnal.html

Re: 20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus

Posted: 05 Jul 2026, 22:12
by faizal

Re: 20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus

Posted: 05 Jul 2026, 22:15
by faizal
Risdianto, F. (2026, July 5). 20 Tips Rahasia Jurnal Menjadi Jurnal Internasional dan Terindeks Scopus. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.21207114