Perbedaan Mendasar AKREDITASI JURNAL Sistem Lama vs Sistem Baru

Kolom yang berisi informasi tentang jurnal / publikasi / tata kelola / OJS dan lain-lain, dalam bentuk File / Link
Post Reply
faizal
Posts: 636
Joined: 01 Feb 2017, 11:00
Location: Sukoharjo
Contact:

Perbedaan Mendasar AKREDITASI JURNAL Sistem Lama vs Sistem Baru

Post by faizal »

Image

Perubahan sistem akreditasi jurnal nasional menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam penilaian mutu jurnal ilmiah di Indonesia. Jika pada sistem sebelumnya dikenal enam tingkatan peringkat, yaitu SINTA 1 hingga SINTA 6, maka pada sistem baru jumlah peringkat disederhanakan menjadi empat tingkatan, yaitu SINTA 1, SINTA 2, SINTA 3, dan SINTA 4. Penyederhanaan ini bertujuan untuk memudahkan klasifikasi jurnal sekaligus mendorong peningkatan kualitas yang lebih terarah dan terukur.

Pada sistem akreditasi lama, jurnal yang telah terindeks Scopus atau Web of Science umumnya memiliki peluang besar untuk memperoleh peringkat SINTA 1. Indeksasi internasional menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan reputasi jurnal. Namun, pada sistem baru, jurnal yang telah terindeks Scopus tidak secara otomatis mendapatkan predikat SINTA 1. Jurnal tetap harus mengikuti proses evaluasi nasional yang menilai berbagai aspek pengelolaan dan kualitas publikasi secara menyeluruh.

Perbedaan lainnya terletak pada fokus penilaian akreditasi. Sistem lama cenderung memberikan perhatian besar pada aspek teknis pengelolaan jurnal, internasionalisasi, indeksasi, dan tampilan profesional website jurnal. Sebaliknya, sistem baru lebih menekankan kualitas substansi artikel ilmiah yang diterbitkan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas isi jurnal kini menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan aspek administratif semata.

Periode evaluasi juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya jurnal dinilai berdasarkan kinerja selama dua tahun terakhir, maka pada aturan baru penilaian dilakukan berdasarkan rekam jejak tiga tahun terakhir. Perpanjangan periode evaluasi ini memungkinkan asesor untuk menilai konsistensi kualitas jurnal dalam jangka waktu yang lebih panjang dan objektif.

Sistem baru juga memperjelas komposisi bobot penilaian. Sebanyak 53% penilaian difokuskan pada substansi artikel, sedangkan 47% lainnya berasal dari aspek manajemen jurnal. Selain itu, ambang batas nilai akreditasi dinaikkan sebesar 10 poin pada setiap level, dengan nilai minimum akreditasi ditetapkan sebesar 60. Dengan demikian, standar kualitas yang harus dipenuhi oleh pengelola jurnal menjadi semakin tinggi.

Pada sistem lama, salah satu target utama jurnal yang ingin mencapai SINTA 2 adalah memperkuat internasionalisasi. Jurnal dituntut memiliki fokus dan ruang lingkup yang jelas, menerapkan sistem double-blind review, melibatkan editor dan reviewer internasional, serta mulai menarik penulis dari luar negeri. Selain itu, jurnal harus memiliki DOI, terindeks DOAJ, menerbitkan artikel secara tepat waktu, serta mengelola website OJS secara profesional.

Untuk mencapai SINTA 1 pada sistem lama, jurnal harus memenuhi seluruh persyaratan SINTA 2 dan ditambah berbagai indikator internasional lainnya. Jurnal idealnya telah terindeks Scopus atau Web of Science, memiliki tingkat penolakan artikel yang tinggi, memperoleh sitasi yang signifikan, menggunakan bahasa Inggris secara dominan, serta didukung oleh editor dan reviewer yang memiliki reputasi internasional. Dengan kata lain, orientasi utama sistem lama adalah menjadikan jurnal nasional mampu beroperasi seperti jurnal internasional bereputasi.

Dalam sistem baru, tingkatan SINTA 4 menjadi level dasar yang menekankan pengelolaan jurnal yang baik. Jurnal harus terbit secara rutin, menggunakan OJS dengan baik, memiliki DOI aktif, menerapkan proses review minimal, menyediakan kebijakan etika publikasi, dan menerbitkan artikel yang memenuhi standar ilmiah dasar. Fokus utama pada level ini adalah membangun fondasi tata kelola jurnal yang sehat dan berkelanjutan.

Pada level SINTA 3, jurnal dituntut menunjukkan peningkatan kualitas artikel dan pengelolaan. Artikel yang diterbitkan mulai harus memperlihatkan unsur kebaruan penelitian (novelty), proses review menjadi lebih ketat, metadata artikel harus lengkap, dan manajemen jurnal harus stabil. Selain itu, sitasi jurnal mulai diperhatikan sebagai indikator meningkatnya pengaruh ilmiah jurnal tersebut.

Untuk mencapai SINTA 2 dan SINTA 1 pada sistem baru, penekanan utama berada pada kualitas substansi artikel, kontribusi ilmiah, dan integritas akademik. Mayoritas artikel harus memiliki novelty, research gap, dan kontribusi teoretis yang jelas. Proses editorial dan peer-review harus profesional, terdokumentasi, dan konsisten. Jurnal juga harus menunjukkan reputasi yang terus meningkat melalui sitasi, kualitas artikel yang stabil, serta tata kelola yang memenuhi standar nasional yang tinggi.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sistem akreditasi lama lebih berorientasi pada internasionalisasi, indeksasi, dan penguatan citra jurnal sebagai jurnal berstandar internasional. Sebaliknya, sistem akreditasi baru lebih menitikberatkan pada mutu substansi artikel, integritas akademik, kualitas manajemen jurnal, serta konsistensi penerbitan selama tiga tahun terakhir. Dengan demikian, keberhasilan memperoleh peringkat SINTA yang tinggi tidak lagi hanya ditentukan oleh indeksasi internasional, tetapi juga oleh kemampuan jurnal dalam menjaga kualitas ilmiah dan tata kelola secara berkelanjutan.
Dr.Faizal Risdianto,S.S,M.Hum, Mobile: 0856-4201-9501
E-mail: risdiantofaizal@gmail.com
https://jolcc.org/bikinwebojs/
https://s.id/registerjournal :D 8-)

Post Reply